Halaman

Imam Ali Ibn Abi Thalib as

Barangsiapa yang rindu kepada surga, dia akan berpaling dari tuntutan hawa nafsunya.
Barangsiapa yang takut api neraka, dia akan menjauhi hal-hal yang terlarang.
Barangsiapa yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, dia akan menganggap ringan suatu musibah
Barangsiapa yang bersiap-siap menghadapi kematian, dia akan bersegera melakukan kebaikan

Search




Showing posts with label Inspirasi | Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi | Inspiration. Show all posts

Wednesday, December 28, 2011

Agar Nafkah Menjadi Berkah

sumber: http://ceritateladan.com/2011/12/agar-nafkah-keluarga-menjadi-berkah/

Agar Nafkah Menjadi Berkah

Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama.

Allah berfirman,

”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).

Dan ketika sahabat yang mulia, Salman Al-Farisy radhiallahu ‘anhu ditanya oleh seorang musyrik, Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab, ”Benar, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar dan ketika buang air kecil…[1]

Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, dengan tujuan untuk membimbing orang-orang yang beriman agar mereka meraih keberkahan dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pembelanjaan harta mereka yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”[2]

Disamping itu, mengatur pembelanjaan harta sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala merupakan cara terbaik untuk mengatasi keburukan nafsu manusia yang tidak pernah puas dengan harta dan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[3]

Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[4]

Kewajiban mengatur pembelanjaan harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”[5]

Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hAl-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia.[6]

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idha’atul maal (menyia-nyiakan harta).[7]

Arti “idha’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan.[8]

Antara pemborosan dan penghematan yang berlebihan

Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqaan: 67)

Artinya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan).[9]

Juga dalam firman-Nya,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 29)

Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah.”[10]

Waspadai fitnah (kerusakan) harta!

Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[11]

Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. At-Tagaabun: 15).[12]

Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[13], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[14]

Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.[15]

Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf  berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”[16]

Zuhud dalam masalah harta

Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hAl-hal yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”[17]

Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”[18]

Jangan lupa menyisihkan sebagian harta untuk sedekah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Sabaa’: 39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.[19]

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya.”[20]

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hAl-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.”[21]

Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma.”[22]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”[23]

Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”[24]

Nasehat dan penutup

Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.

Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”[25]

Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[26]

Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[27].

Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang AllahSubhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.”[28]

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

sumber:www.PengusahaMuslim.com


[1] HSR Muslim (no. 262).

[2] HSR Al-Bukhari (no. 56) dan Muslim (1628).

[3] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).

[4] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.

[5] HR At-Tirmidzi (no. 2417), Ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam “As-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.

[6] Lihat kitab “Bahjatun naazhirin syarhu riyaadhish shaalihin” (1/479).

[7] HSR Al-Bukhari (no.1407) dan Muslim (no.593).

[8] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar” (3/237).

[9] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433).

[10] Kitab “Fathul Qadiir” (3/318).

[11] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.

[12] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).

[13] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 84 - Mawaaridul amaan).

[14] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).

[15] Kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83-84, Mawaaridul amaan).

[16] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83 – Mawaaridul amaan).

[17] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/384).

[18] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/179).

[19] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/713).

[20] HSR. Muslim (no. 2588).

[21] Lihat kitab “Syarhu shahihi Muslim” (16/141) dan “Faidhul Qadiir” (5/503).

[22] HSR Al-Bukhari (no. 1351) dan Muslim (no. 1016).

[23] HSR Muslim (no. 2626).

1 HSR Al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).

2 HSR Al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).

[26] HSR Muslim (no. 34).

[27] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 81).

[28] HSR Muslim (no. 1054).



Apakah Perempuan Itu Manusia?


Apakah Perempuan Itu Manusia?

Apakah perempuan itu manusia? Inilah sebuah pertanyaan yang membingungkan orang Eropa dalam waktu yang lama. Mereka berkumpul pada tahun 586 SM di Perancis untuk meneliti isu ini dan menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian mereka menyimpulkan—setelah pertemuan, konsultasi, dan diskusi—bahwa perempuan diciptakan untuk mengabdi kepada laki-laki, dan hal itu tidak terjadi kecuali 30 tahun hingga Nabi saw. bangkit, dan mengatakan kepada dunia bahwa perempuan adalah pasangan hidup laki-laki dan kehidupan dunia adalah perhiasan dan perhiasan yang terbaik adalah wanita yang salihah (baik). Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang menghormati dan memuliakan perempuan serta fungsi pentingnya di masyarakat.

Sebelum masa Nabi Muhammad, di India, wanita tidak punya hak untuk hidup setelah kematian suaminya, tapi harus ikut dengan kematian suaminya. Setelah masa Nabi Muhammad, wanita adalah pendamping lelaki.
Sebenarnya, saudara dan saudari sekalian, siapapun yang membaca jalan hidup (sirah) Nabi akan mendapati bahwa peran perempuan dalam masyarakat pada saat itu lebih besar dari pada peran perempuan pada masa sekarang. Perempuan pada masa Nabi, berperan sebagai istri, ibu, pergi berperang, sebagai dokter, memberikan pendapat umum soal agama (fatwa), juga memberikan nasihat kepada hakim (dan penguasa). Oleh karena itu, banyak dari para istri Nabi yang biasa memberikan saran dalam bidang politik dan sosial.
Sebelum masa Nabi Muhammad, di Yahudi, ketika wantia mengalami menstruasi (haid), lelaki tidak makan atau minum bersama mereka. Lelaki menjauhi wanita. Setelah masa Nabi Muhammad, Aisyah meriwayatkan, “Saya terbiasa minum dari gelas yang dipakai Nabi untuk minum… dan dia juga minum setelah saya ketika masa periode (haid).”
Saya jadi berpikir, apakah peran perempuan masa sekarang kembali ke masa sebelum Nabi Muhammad saw?
Sebelum masa Nabi Muhammad, bangsa Arab, membunuh perempuan adalah perbuatan mulia. Setelah masa Nabi Muhammad, kehidupan dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salihah (baik).
Hari ini, saudara dan saudari sekalian, masih ada para ayah yang memaksa putri mereka untuk menikah dengan pria yang tidak ia inginkan. Pernah datang kepada Nabi, seorang wanita yang mengeluh karena ayahnya memaksanya untuk menikahi pria yang tidak disukainya. Kemudian Nabi memanggil ayah itu dan menyerahkan situasi kepada pilihan wanita apakah setuju dengan tindakan ayahnya atau membatalkan perkawinan. Kemudian wanita itu (semoga Allah rida kepadanya) berkata, “Saya menerima apa yang ayah saya lakukan, tapi ini semua bertujuan untuk membebaskan wanita bahwa sebenarnya seorang ayah tidak berhak melakukan itu!”
Seorang suami memukul istrinya setiap 18 detik di Amerika Serikat.
Juga menjadi biasa dalam fenomena sosial, khususnya bangsa Arab, adalah beberapa pria malu untuk menyebutkan nama istri atau ibu mereka di depan teman-teman. Anda temukan mereka berkata, “Zaujatî, Allâh yakrimak (Istri saya, semoga Allah memuliakan Anda)” atau, “Al-mar’ah, Allah ya’izzak (Wanita itu, semoga Allah membesarkan Anda).” Kalimat ini sudah biasa. Seolah-olah nama perempuan itu aurat yang harus ditutupi. Padahal dulu Nabi ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau mengatakan, “Aisyah.” Beliau tidak mengatakan, “Istri kedua saya,” atau, “Ibunya anak-anak.”
Terungkap, 2 juta wanita telah dipukul di Perancis setiap tahunnya.
Saudariku, jika ada seseorang yang dianiaya, apakah oleh ayahnya atau suaminya, kirimkan pesan kepada kami melalui situs program ini. Kami berjanji akan menyampaikannya ke pemimpin eksekutif Amnesty Commision and the Reform of Albin, Dr. Nassir Az-Zahrani. Komite ini diketuai oleh Pangeran Abdulmajid bin Abdulaziz.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Dengan maksud apa Anda memukul istri seperti memukul budak, kemudian tidur bersamanya pada malam hari?”
Tidak ada keraguan bahwa Islam memberikan banyak hak bagi lelaki “terhadap perempuan”. Nabi bersabda, “Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk tunduk kepada orang lain, maka saya akan perintahkan istri untuk tunduk terhadap suaminya, karena besarnya hak suami terhadap istri.” Jadi tidak ada keraguan tentang ini dan tidak ada yang menolak, tapi Islam tidak memberikan hak bagi lelaki untuk bertindak zalim (tirani), menganiaya atau memukul istri dan putrinya. Karena bagi putri, perempuan dan istri ada kehormatan Islam yang harus kita hormati!
Di Inggris, 77 persen suami memukul istri karena tanpa sebab.
Rasulullah saw. bersabda, “Bermurah-hatilah terhadap qawarir (perempuan).” (Catatan: Nabi menggunakan kata qawarir yang dalam bahasa Arab merujuk pada mereka yang memiliki kehalusan hati, kebaikan, dan kelembutan). Salah seorang ulama mengatakan, “Benar bahwa perempuan adalah sebagian dari lingkungan sosial, tapi ingat bahwa ia adalah yang mengasuh sebagian yang lain. Maka wanita adalah keselurahan kehidupan sosial.”
Saya yakin, saudara saudariku, bahwa negara Islam tidak akan bangkit kecuali jika kita memberikan kepada perempuan kemuliaannya, ketinggiannya, dan penghormatannya di lingkungan sosial, baginya untuk menjadi seorang ibu yang memiliki martabat, yang melahirkan bagi kita seseorang seperti Umar bin Abdulaziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan pria-pria lain yang tiada tandingnya.


Sumber: Khawâthir Syâb merupakan acara yang pandu oleh Ahmad Asy-Syaqiri di televisi Arab Saudi yang khusus mengupas kehidupan sehari-hari dunia Arab dan ditayangkan pada bulan Ramadan.



Penerjemah: Ali Reza Al-Jufri © 2009

Jasadnya Dimakamkan oleh Malaikat

http://ceritateladan.com/2011/11/jasadnya-dimakamkan-oleh-malaikat/

Jasadnya Dimakamkan oleh Malaikat

Amir Bin Fuhairah adalah salah seorang budak milik Tufail Bin Harits yang masuk Islam ketika Rasulullah saw menerima wahyu yang pertama. Masuk Islamnya Amir menimbulkan kemarahan besar pada majikan dan pemimpin Quraisy yang memuja berhala. Para pemimpin kafir Quraisy merasa cemas melihat banyak budak-budak masuk Islam, seperti halnya Amir. Sebab hal itu akan menyuburkan pertumbuhan Islam di kalangan mereka. Oleh karena itu, kaum kafir Quraisy berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi dan merintangi setiap orang yang hendak masuk Islam denga cara apaun yang mereka kehendaki.

Pada suatu hari Amir mendapat teguran dari pemimpin Quraisy setelah dilaporkan oleh majikannya Tufail. Sang pemimpin itu dengan tegas berkata, “Hai Amir,  segera tinggalkan agama baru yang engkau anut itu.”

Amirpun menjawab dengan tegas pula, “Tidak! Aku sudah mantap untuk tetap dalam Islam.”

“Jika engkau mau kembali kepada agama nenek moyang kita, engkau akan diberi hadiah dan uang yang banyak” Bujuk pemimpin Quraisy itu.

“Aku tidak mau menukar keyakiananku dengan harta benda dunia. Bagiku keyakinan lebih berharga dari segalanya.” Tegas Amir.

“Kalau begitu, engkau layak mendapat siksaan!” kata  pemimpin itu mengancam.

“Aku tidak takut ancaman itu!” kata Amir tegas.

“Keparat…!” seret budak itu dan siksa sampai ia mau tunduk kepada kita!” perintah sang pemimpin.

Kaum kafir Quraisy berdatangan mendengar gertakan pemimpinnya. Amir diseret beramai-ramai laksana benda mati saja. Mereka menyeret kedua kakinya sementara badannya tergeletak di tanah. Karuan saja punggungnya lecet-lecet dan darah bercucuran. Amir dibawa ke suatu tempat di lapangan terbuka. Di sana ia disabet dengan cemeti secara bergantian. Akibatnya tubuh Amir memar dan terluka. Namun Amir tetap dalam keteguhannya memegang keyakinan Islamnya. Ia menganggap bahwa itu adalah sebagai  cobaan.

Pada saat itu Abu Bakar lewat dan melihat  kerumunan mereka. Ia menghentikan langkahnya dan menghampiri kerumunan itu. Ternyata mereka sedang menyiksa seorang budak dan ia tahu bahwa ia adalah budak milik Tufail.



“Sungguh biadab kelakuan mereka itu.” Kata Abu Abakar dalam hati. Lalu  menghampiri Tufail dan berkata,

“Tufail, aku beli budakmu itu !”.

“Silahkan, kebetulan sekali. Aku sudah muak melihat budakku itu.”

“Berapa engkau engkau jual?” tanya Abu Abakar.

“Karena engkau  adalah suami dari anak saudaraku, maka terserah engkau saja, berapa engkau bayar. ”Kata Tufail. Abu Bakar membeli budak  dengan harga yang pantas dan membawanya pulang. Kelak ketika Rasulullah  mengadakan perjanjian persaudaaran antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, beliau memersaudarakan Amin Bin Fuhairah sebagai kaum Muhajirin dengan Harits  Bin Aus sebagai kaum Anshar. Sejak dibeli oleh Abu Bakar, Amir selalu berada di belakang Rasulullah ketika shalat lima waktu.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Amir bekerja sebagai pedagang. Tetapi baginya berdagang bukanlah untuk mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan yang terpenting baginya adalah dapat memenuhi kebutuhan keseharian dengan cara yang halal dan tidak mengharap-harap pemberian orang lain.

Walaupun ia rajin berdagang, tapi ia tidak pernah menyimpan uang untuk hari esok. Kekayan yang ia miliki hanyalah senjata untuk berperang dan beberapa potong pakaian untuk shalat di masjid. Karena ia tidak mempunyai apa-apa, maka ketika perang ia selalu menjadi pasukan infantri (pasukan pejalan kaki) di depan Rasulullah saw. sang  komando jihad. Pernah ketika ia mengikuti perang, ia mengalami luka-luka, ia malah berkata, “Ini adalah peringa-tan Allah di hari akhir nanti.”

Dalam suatu perjalanan pulang setelah mengantarkan surat dakwah Rasulullah kepada salah seorang penguasa di wilayah Biri Maunah, ia bersama rombongannya berkemah di untuk berisirahat. Ketika sedang beristirahat itulah, mereka dikepung oleh kepala suku bersama pasukannya di wilayah itu. Terdengar kepala suku itu berkata, “ Hai kawan-kawan, segeralah minta bantuan untuk  mengepung tenda itu!”

Lalu terdengar ada seseorang yang berkata dengan suara yang keras, “Hai para utusan Nabi kini saatnya kalian mati di tanganku.”

“Wah…. Kita telah terkepung.” Kata Amir. “Kita harus melawan  dengan sekuat tenaga.“ Kata yang lain.

Karena jumlah rombongan Amir dan kawan-kawannya yang sedang beristirahat di dalam kemah itu tidak seimbang dengan jumlah pasukan yang mengepungnya, maka mereka kalang kabut. Meskipun mengadakan perlawanan, namun karena jumlah mereka  tidak seimbang, perlawanan mereka sia-sia. Akibatnya rombongan para utusan Rasulullah itu banyak yang gugur sebagai syahid. Hanya tiga orang yang berhasil meloloskan diri dan selamat, termasuk Amir bin Fuhairah. Tetapi  mereka mengejar ketiga orang tersebut. Amir ditikam dengan tombak oleh Jabbar bin Salma. Ketika ujung tombak menembus dadanya, Amir berkata, “Demi Allah, aku beruntung!” “Bagaimana engkau beruntung, sedang engkau sebentar lagi akan mati?” kata Jabbar. Amir menjawab, “Aku beruntung karena kematianku adalah sebagai syahid.”

Setelah Amir benar-benar mati terbunuh, tiba-tiba mereka menyaksikan sesuatu yang menakjubkan, yakni tubuh Amir melayang-layang di udara dan terbang ke langit. Mereka keheranan menyaksikan peristiwa itu. Peristiwa itu menyadarkan mereka. Sehingga gara-gara peristiwa itu mereka menyatakan diri masuk Islam. Setelah mereka menjadi muslim yang taat di antara mereka ada memper-tanyakan tentang kematian Amir bin Fuhairah yang jasadnya melayang-layang di udara dan terbang ke angkasa.

Maka Rasulullah saw menjawab, “Jasad Amir bin Fuhairah dibawa oleh para malaikat dan dimakamkan di langit.”


Wednesday, May 4, 2011

Bersandar kepada siapa?

Ali ibn Abi Thalib kw:

Barangsiapa yang bersandar pada HARTA, ia akan miskin.
Barangsiapa yang bersandar pada HARGA DIRI, ia akan hina.
Barangsiapa yang bersandar pada AKAL, ia akan tersesat.
Akan tetapi, barangsiapa yang bersandar kepada ALLAH SWT sesungguhnya ia tak akan miskin, hina, ataupun tersesat.

Tuesday, December 28, 2010

Hak Tetangga

Hak Tetangga
Sabtu, 25 Desember 2010, 05:03 WIB

Islam adalah agama kemanusiaan. Seseorang wanita dapat masuk neraka gara-gara mengikat seekor kucing tanpa memberinya makan dan minum, sementara seorang wanita lain dapat memasuki surga karena memberi air kepada seekor anjing kehausan untuk diminum (Al Hadits)

Bila itu adalah hukuman bagi manusia yang menyakini binatang, bagaimana konsekuensi yang akan diterima bila menyakiti dan melanggar hak manusia lain? Oleh karena itu sejumlah ulama menekankan pentingnya menghormati hak orang lain, salah satunya para tetangga.

Allah swt berfirman, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat..." (QS An Nissa [4]: 360.

Rasul juga pernah bersabda, "Jibril tidak pernah menegur saya terkait hak-hak para tetangga hingga saya mulai berpikir menjadikan ia salah satu pewaris saya,". Dalil di atas menunjukkan betapa pentingnya menghormati tetangga dan Muslim wajib memenuhi hak tersebut.

Dalam Islam, para tetangga adalah orang-orang yang tinggal dalam 40 rumah di depan, samping dan belakang anda. Orang-orang inilah yang berhak mendapat perlakuak baik. Kehormatan mereka tak boleh dilecehkan. Sangat dilarang pula untuk melukai mereka dengan lidah, tangan atau perbuatan.

Kini, ketika orang-orang memiliki tradisi merayakan sesuatu dengan meriah, mereka cenderung tidak peduli bila menggangu tetangga dengan suara berisik lewat musik yang keras dan hingar-bingar. Ini jelas bukan ajaran Islam.

Bahkan dalam melaksanakan kewajiban agama, Islam tidak mengizinkan kita menganggu orang lain. Suatu saat Aisyah r.a, istri Rasulullah saw. menuturkan bahwa ketika Rasul melaksanakan shalat tahajud di malam hari, beliau bergerak perlahan pada setiap gerakan shalat demi tidak mengganggu tidur sang istri.

Lebih jauh, menjadi tanggung jawab mengikat bagi Muslim untuk tidak tidur sebelum ia memastikan tetangganya yang kekurangan mendapat bantuan ketika ia memiliki kebutuhan lebih dari cukup untuk merawat keluarganya di hari itu. Pesan Rasulullah saw, "Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam kondisi kenyang sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya” (HR. Thabrani dan Hakim)

Sungguh, seorang beriman harus takut kepada Allah saw bila memperlakukan tetangga dengan buruk. Menghina atau melecehkan mereka sangat dilarang, meski tetangga kita adalah non-Muslim. Muslim berkewajiban untuk berbagi dalam sukacita dengan tetangga mereka dan menghibur mereka di saat-saat kesedihan. Ini adalah sunnah Nabi (SAW).

Tugas lain yang harus dijalankan seorang Muslim adalah mengajak tetangga pada kebaikan. Masih ingatkah kisah Rasulullah saw. dan tetangganya seorang Yahudi yang kerap melempar kotoran saban hari ke halaman rumah Al amin?

Alih-alih marah, Rasulullah saw. dengan sabar selalu membuang kotoran-kotoran tersebut. Beliau tak pernah mengeluh. Bayangkan bila itu tetangga anda, kita?

Hingga suatu hari Rasulullah saw menjumpai halamannya bersih tanpa kotoran dan malah keheranan. Ternyata si tetangga Yahudi itu sakit. Beliau pun menjenguknya seraya membawa buah tangan serta mendoakan kesembuhannya. Menyaksikan kebaikan dan ketulusan hati Rasulullah saw. hati tetangga Yahudi itu pun tersentuh dan akhirnya memutuskan masuk Islam. 

Pendaran energi murni kebaikan bahkan bisa melunakkan hati yang keras. Sungguh kita harus belajar dari Rasulullah yang digambarkan Allah sebagai suri teladan terbaik manusia. Lagipula sungguh menyenangkan bila kita dapat menjumpai tetangga kita dan bertetangga lagi di surga kelak. Insya Allah, Amin.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari


Thursday, August 5, 2010

Tuhan menciptakan Ibu

Tuhan menciptakan Ibu di hari keenam dan bekerja hingga larut.

Malaikat datang mendekati dan bertanya, "Mengapa Engkau meluangkan waktu sedemikian banyak untuk yang satu ini?"

Tuhan menjawab, "Tahukah engkau apa kelebihan yang Kuinginkan dalam menciptakannya? Ia harus dapat dibersihkan, tapi bukan dari bahan plastik. Lebih dari 200 bagian darinya yang dapat digerakkan tanpa perlu diganti. Ia harus mampu menyantap segala macam makanan. Pada saat yang sama ia harus mampu menggendong tiga bayi sekaligus. Dengan sekali ciuman, mulai dari lutut yang luka hingga hati yang sedih dapat disembuhkannya. Semua ini harus dilakukannya hanya dengan dua tangan."

Penjelasan Tuhan itu sangat mempengaruhi benak malaikat.

Ia akhirnya bertanya, "Hanya dengan dua tangan? Tidak mungkin itu! Apakah Engkau yakin ini sebuah model yang benar dan memenuhi standar?"

"Hari ini Engkau telah melakukan banyak kerja, lakukan sisanya keesokan hari," kata malaikat.

"Aku tidak bisa meninggalkannya. Lagi pula tinggal hari terakhir," jawab Tuhan. "Sedikit lagi makhluk yang Kucintai ini akan sempurna," tambah-Nya.

Tuhan menjelaskan lagi, "Ketika sakit, ia sendiri yang berusaha mengobati dirinya dan ia mampu bekerja 18 jam dalam sehari."

Malaikat mendekati makhluk itu dan menyentuhnya. "Ooh, ia sangat lembut," kata malaikat.

"Iya benar. Ia memang sangat lembut, tapi Aku menciptanya sangat kuat. Kau tidak akan mampu membayangkan apa saja yang dapat ditanggungnya dan bagaimana ia keluar sebagai pemenang menghadapi segala masalah," jawab Tuhan.

Malaikat kembali bertanya, "Apakah ia dapat berpikir?"

Tuhan menjawab, "Ia bukan hanya bisa berpikir, tapi juga berargumentasi, membahas dan berdialog."

Malaikat memegang tulang pipinya dan mengatakan, "Tuhan, aku berpikir Engkau telah meletakkan tanggung jawab yang sangat banyak kepadanya! Sepertinya ada lubang dan air menetes dari sana!"

Tuhan membetulkan apa yang diucapkan malaikat dan mengatakan, "Itu bukan tetesan air biasa, tapi itu tetesan air mata."

Malaikat kembali bertanya, "Apa manfaat air mata baginya?"

Air mata adalah caranya untuk mengungkapkan kesedihan, keraguan, cinta, kesendirian, kesulitan dan kebanggaannya," jawab Tuhan.

Malaikat semakin berdebar membayangkan makhluk yang satu ini dan bertanya, "Wahai Tuhan! Engkau memang Maha Mampu dan telah mempertimbangkan segala aspek luar biasa dalam menciptakan makhluk bernama Ibu."

"Sayangnya ada satu darinya yang kurang tepat. Ia akan melupakan betapa dirinya begitu bernilai," kata malaikat. (Ap/SL/MZ)

~ Irib.ir

Friday, July 9, 2010

Tempayan yang Retak

Tempayan yang Retak
--- dari e-mail seorang kawan

Seorang ibu yang sudah tua memiliki 2 buah tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan bambu. Salah 1 dari tempayan itu retak, sedangkan yang 1 nya tidak bercela dan selalu memuat air hingga penuh. Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama 2 tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana sang ibu tua membawa pulang air hanya 1 1/2 tempayan. Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya & sedih, sebab dia hanya bisa memenuhi 1/2 dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua di dekat sungai. "Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumah mu." Ibu itu tersenyum dan menjawab, "Tidakkah kau lihat bunga yang beraneka ragam di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang lainnya? Aku sudah tau kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih2 itu, selama 2 tahun ini pula aku bisa memetik bunga2 yang cantik untuk menghias meja. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak bisa seasri seperti ini sebab tidak ada bunga."

Kita semua punya kekurangan masing2 ... Namun kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menjadi menyenangkan dan memuaskan dengan saling melengkapi 1 dengan yg lain.

--------------------

Kita sepatutnya bisa menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
Saudaraku sesama tempayan yang retak, semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa mencium wanginya bunga di jalurmu.


Tuesday, July 6, 2010

Chicken Soup: Mengikat Kaki Unta

Chicken Soup: Mengikat Kaki Unta

Rasullullaah saww:
"Jangan pernah meminta pertolongan untuk urusan pribadimu dan jangan berhutang pada siapa pun, meski hanya sebatang tusuk gigi"
------------------

Kafilah telah berjalan selama berjam-jam, kelelahan menyelimuti mereka, demikian pula unta yang mereka tunggangi. Sesampainya di oasis, mereka menyuruh unta-unta mereka duduk. Rasulullaah Saww yang ikut dalam kafilah tersebut juga memerintahkan untanya duduk, kemudian beliau turun.

Semua orang turun dari unta dan bergegas menuju oasis untuk berwudhu, begitu pun Rasul saww. Setelah beberapa langkah, tanpa berkata kepada siapa pun, Rasul saww kembali ke untanya. Betapa terkejutnya para sahabat, mereka menyangka Rasul saww tidak menyukai tempat itu dan menyuruh mereka pergi dari sana. Sambil memasang telinga dan memperhatikan dengan seksama, mereka menanti perintah Rasul saww. Para sahabat takjub dan kagum melihat Rasul saww ternyata menghampiri untanya, mengambil tali, dan mengikat kaki untanya, kemudian kembali ke tujuan semula.

Para sahabat serentak mengucapkan, "Wahai utusan Allaah! Mengapa tidak kau perintahkan kami saja untuk melakukannya, mengapa kau menyusahkan diri sendiri sementara kami akan berbangga hati melayanimu?"


"Jangan pernah meminta pertolongan untuk urusan pribadimu dan jangan berhutang pada siapa pun, meski hanya sebatang tusuk gigi", jawab Rasul saww.


------------------

The Best Chicken Soup - persembahan Nabi dan Keluarganya
-Murtadha Muthahhari-
Cet. I Oktober 2004 Pustaka IIMAN

Monday, May 17, 2010

Sri Mulyani, Nasionalisme, dan Tinju

Tempo Interaktif --- http://pendek.in/01e69

17 Mei 2010


Sri Mulyani, Nasionalisme, dan Tinju
Muhammad Chatib Basri -- Mantan anggota staf khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Deputi Menteri Keuangan untuk G-20

Pittsburgh, 25 September 2009.

Saya catat hari itu dalam ingatan. Presiden Obama meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membagikan pengalaman Indonesia dalam menurunkan subsidi bahan bakar minyak, dalam forum amat penting G-20. Kita ingat pada 2005 dan 2008, Indonesia menaikkan harga BBM dan mengalokasikan subsidinya untuk rakyat miskin. Mungkin aneh bagi sebagian di antara kita, mengapa kebijakan yang di dalam negeri dicaci maki justru layak dijadikan contoh oleh negara anggota G-20.

Siang itu, Presiden SBY sudah bersiap memberikan paparannya. Sayangnya, waktu dalam sesi makan siang itu amat terbatas, padahal ada tiga topik yang dibahas, dan giliran SBY yang terakhir. Waktu habis dan Presiden pun tak jadi bicara. Tentu kami semua-Menteri Keuangan Sri Mulyani; juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal; Mahendra Siregar; dan saya-amat kecewa.

Kami berusaha meminta keterangan dari delegasi Amerika Serikat, tapi jawabannya tak memuaskan. Mereka tentu tak berani menanyakan kepada Obama. Saya ingat Sri Mulyani setengah berbisik kemudian mengatakan, "Kayaknya saya mesti ngomong langsung dengan Obama." Saya kira dia bergurau. Tapi kemudian saya sadar, ia serius. Sri menghampiri Presiden Obama yang baru memasuki ruangan setelah jeda makan siang. Mereka berbicara berdua. Saya kebetulan berjarak sekitar dua meter dari mereka, sehingga saya bisa mendengar percakapan tersebut.

Dengan terus terang-khas Sri Mulyani-ia menyampaikan kekecewaannya. Ia mengatakan bahwa Presiden Obama sudah meminta Presiden SBY berpidato, tapi waktunya habis. Karena itu, ia meminta Presiden Obama menyampaikan maaf kepada Presiden SBY dan memberikan kesempatan di sesi berikutnya. Saya terkejut. Presiden Obama-saya kutip dari ingatan-tersenyum dan mengatakan, "Itu kesalahan saya, saya minta maaf, akan saya berikan kesempatan di sesi berikutnya."

Setelah itu, saya melihat Presiden Obama menghampiri Presiden SBY dan berbicara berdua. Di sesi berikutnya, Presiden Obama meminta maaf secara terbuka. SBY kemudian berpidato dengan sangat meyakinkan. Bahkan, kemudian ada satu bagian dari komunike yang menganjurkan agar kebijakan ini dicontoh anggota G-20. Sri Mulyani kelihatan tersenyum. Sambil bercanda kami mengatakan kepada Sri Mulyani, sebetulnya ia lebih cocok menjadi Menteri Pertahanan!

Itu adalah contoh kecil dari kiprah Sri Mulyani di forum internasional. Tentu naif bila kita menyimpulkan bahwa Indonesia berperan dalam G-20 hanya dari cerita itu. Yang jauh lebih serius adalah ketika pada pembicaraan di tingkat Menteri Keuangan, Sri Mulyani memperjuangkan pembiayaan stimulus fiskal bagi negara berkembang. Negara berkembang-termasuk Indonesia-sampai September 2008, tumbuh relatif tinggi. Namun krisis keuangan global telah membawa dampak yang dalam bagi negara berkembang.

Untuk mengatasi itu, sisi permintaan-seperti resep Keynes lebih dari 70 tahun lalu-harus didorong. Dan ini mesti dilakukan di tingkat global. Masalahnya, tak semua negara, terutama negara berkembang, memiliki kemampuan untuk membiayai stimulusnya. Dalam situasi krisis keuangan global, akses terhadap pasar keuangan praktis tertutup. Kalaupun terbuka, harganya amat mahal.

Di sini, usulan Indonesia agar dibentuk global expenditure support fund diadopsi. G-20 sepakat mengguyurkan sedikitnya US$ 100 miliar melalui Bank Pembangunan Multilateral untuk membantu bujet negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, disediakan trade financing US$ 250 miliar untuk memulihkan perdagangan global.

Saya yang hadir di sana melihat bagaimana Sri Mulyani berdebat mengenai hal ini. Ia begitu dihormati dan didengar oleh para menteri keuangan lain, seperti Alistair Darling dari Inggris, Tim Geithner dari Amerika, atau Christine Lagarde dari Prancis. Saya ingat bagaimana dalam diskusi, Sri Mulyani kerap diminta menjadi pembicara pembuka. Saya catat, Darling atau Geithner di beberapa kesempatan, setelah mereka bicara, berpaling dan menanyakan, "Sri Mulyani, what do you think...."

Di sana, saya bangga menjadi orang Indonesia karena Indonesia dihormati dan didengar dalam forum yang boleh dibilang paling penting di dunia saat ini. Sebab, Indonesia berani memperjuangkan nasib negara berkembang di pentas global. Di masa lalu, sentimen nasionalisme kita kerap dibangun lewat tinju atau bulu tangkis. Keindonesiaan kita menjadi begitu bergelora ketika Ellyas Pical juara dunia, atau saat Susi Susanti dan Alan Budikusuma meraih emas olimpiade. Atau di tempat lain, nasionalisme kita bergelora ketika kita marah, atau terusik atau takut, lalu berteriak "awas asing".

Sri Mulyani membangkitkan kebanggaan akan Indonesia dengan cara lain. Maka, bukan hal yang aneh jika Sri Mulyani ditawari posisi nomor dua di Bank Dunia. Kiprahnya di dunia internasional memang membuat Indonesia yang tadinya sunyi dalam pentas global menjadi berbunyi. Kini, sentimen nasionalisme kita justru dibangun oleh Sri Mulyani lewat perasaan dihargai dan dihormati, karena Indonesia didengar, karena Indonesia mewakili emerging economies memiliki peran mengatasi krisis global. Kita tak lagi menjadi tawanan rasa rendah diri kita atau kita tak lagi melihat dunia dengan kecemasan di tiap tikungan.


Tuesday, April 13, 2010

Imam masjid dan iblis

Imam Masjid dan Iblis

(disalin dari: http://alifmagz.com/wp/2010/04/12/imam-dan-iblis/)

Suatu ketika seorang imam masjid, yang seringkali menurut pada istrinya, bermaksud menuju ke masjid mengimami jamaah di pagi hari yang sedang dilanda hujan lebat dan gelap gulita. Istrinya memintanya agar tidak perlu ke masjid, khawatir ia terjatuh, tapi sang suami berkeras. Ia pun keluar rumah, tetapi baru saja beberapa langkah berjalan, dia tergelincir sehingga terpaksa kembali untuk mengganti pakaian. Setibanya di rumah, sang istri meledeknya dan berkata: “Bukankah telah kukatakan tak perlu ke masjid?” Setelah mengganti pakaian, sang imam keluar lagi menuju ke masjid. Istrinya berkata: “Engkau tidak akan sampai, hujan lebat, dan jamaah pun tidak akan ada.” Sang imam berkeras dan tetap bertekad menuju ke masjid. Tetapi pada kali kedua ini pun ia gagal sehingga harus kembali lagi ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Istrinya sungguh marah, tetapi sang suami tidak mengurungkan niatnya. Sambil berjalan keluar rumah dia mendengar ucapan istrinya: “Kalau engkau pergi dan terjatuh lagi, aku tidak akan membantumu lagi.”

Dalam perjalanannya sang imam bertemu seseorang yang membawa lentera dan menuntunnya sampai ke masjid. Setibanya di masjid sang penuntun meninggalkannya dan enggan shalat bersama. Ketika ditanya siapa dia, penuntun itu menjawab: “Aku adalah setan, tadi kudengar percakapan malaikat ketika engkau jatuh pertama kali bahwa seisi rumahmu diampuni Tuhan berkat langkahmu. Lalu, ketika Engaku terjatuh kedua kalinya, kudengar bahwa berkat tekadmu Tuhan telah mengampuni dosa penduduk kampung ini. Aku kuatir jika yang ketiga engkau pun terjatuh, jangan sampai Tuhan mengampuni dosa seluruh penduduk negeri. Aku tidak ingin hal itu terjadi, maka aku menuntunmu agar engkau sampai ke masjid tanpa terjatuh.”



Saturday, March 13, 2010

Ketika waktu terasa cepat berlalu

Sabda Rasulullaah Muhammad saww, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Tirmidzi dari Anas bin Malik: "Hari Akhir tidak akan terjadi sampai waktu berlalu dengan cepat"

di bawah ini artikel terkait gampa bumi Chile yang menurut ilmuan membuat hari berlalu kurang dari 24 jam.
semoga menjadi referensi untuk introspeksi
____________________________________________________

NASA: Gempa Bumi Chili Geser Poros Bumi Dan Mempersingkat waktu, Ada Apakah?
Jumat, 05/03/2010 06:45 WIB
(sumber: Eramuslim - http://pendek.in/012gd)

Selain mengakibatkan kematian ratusan orang dan mendatangkan kerusakan sangat besar, gempa bumi besar di Chili ternyata sangat mungkin mengubah distribusi keseluruhan massa Bumi. Hal ini diungkapkan oleh para ilmuwan dari NASA.

Akibatnya, panjang hari sekarang sedikit lebih pendek daripada sebelum hari Sabtu dimana gempa bumi berkekuatan 8,8 itu terjadi.

"Panjang hari seharusnya sudah lebih pendek dengan 1,26 mikrodetik [sepersejuta detik]," ujar Richard Gross, seorang ahli geofisika di NASA's Jet Propulsion Laboratory, kepada Bloomberg. "Sumbu massa bumi seharusnya seimbang digerakkan oleh 2,7 milliarcseconds [sekitar 8 sentimeter atau 3 inci]."

Kecepatan bumi berputar juga meningkat sedikit pada tahun 2004 menyusul gempa bumi yang melanda lepas pantai Sumatera, Indonesia. Alasannya adalah bahwa perubahan mendadak dalam dimensi lempeng tektonik bumi, seperti yang dialami dalam gempa bumi di Chili dan Indonesia, dapat mengubah kecepatan.

David Kerridge, kepala Departemen Bahaya dan Sistem Bumi di British Geological Survey di Edinburgh, menyamakan perubahan dalam kecepatan rotasi terhadap apa yang terjadi ketika seorang pemain skat menarik tangan di dekat tubuhnya saat berputar. "Ketika ia menarik tangannya, dia akan lebih cepat dan lebih cepat. Itu sesuatu hal yang sama dengan gempa bumi: Jika Anda mengubah distribusi massa, maka akan terjadi perubahan kecepatan rotasi."

Mari kita ingat sebuah hadis Nabi Muhammad (saw), diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Tirmidzi dari oleh Anas bin Malik,: "Hari Akhir tidak akan terjadi sampai waktu berlalu dengan cepat ...”

Para ulama sendiri menafsirkannya dengan beberapa kondisi:

* Fasilitas komunikasi dan transportasi yang memungkinkan untuk mentransfer informasi dari satu sudut dunia yang lain, dan untuk mengatasi jarak yang luas dalam waktu singkat,

* Persepsi waktu, dengan kefanaan, ketika sejumlah besar peristiwa terkompresi selama periode waktu yang singkat,

* Dan yang benar-benar secara fisik terjadi bahwa waktu itu memang akan dipersingkat.

(sa/kavkaz)

(sumber: Eramuslim - http://pendek.in/012gd)

Subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner