Halaman

Imam Ali Ibn Abi Thalib as

Barangsiapa yang rindu kepada surga, dia akan berpaling dari tuntutan hawa nafsunya.
Barangsiapa yang takut api neraka, dia akan menjauhi hal-hal yang terlarang.
Barangsiapa yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, dia akan menganggap ringan suatu musibah
Barangsiapa yang bersiap-siap menghadapi kematian, dia akan bersegera melakukan kebaikan

Search




Wednesday, March 8, 2017

Perpanjangan SIM A Depok Jabar

LOKASI: Samsat Pasar Segar, Depok
[V] Fotocopy KTP 2x @ 1,000 = 2,000 
[V] Tes kesehatan 22,500 Lampirkan fotocopy ktp 1 Cuma ukur tensi aja  
[V] Asuransi 30,000 
[V] Biaya perpanjangan SIM A 80,000 
[V] Isi formulir dan kumpulkan, antri giliran foto 
[V] Foto, antri ambil sim 
[V] Ambil SIM 
[V] Optional, SIM yang baru jadi, bisa pasang anti gores, 5,000 ajah 
Macam hape aja..
[V] Total, 139,500 
[V] Pastikan tidak telat walau sehari, karena telat dianggap bikin baru, dan harus di test lagi.. 

Tuesday, January 13, 2015

Mengenang pribadi nan mulia

Mengenang pribadi nan mulia
Sabtu, 03 Januari 2015  HIKMAH, Salim A. Fillah
"Sang Nabi ﷺ" by @salimafillah
Sekenal apa kita pada Sang #Nabi ﷺ? Mohon izin merangkum beberapa sifat beliau dari hadits-hadits dalam Asy Syamail karya Imam At Tirmidzi:
1. Perawakan Sang #Nabi ﷺ tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi.
2. Kulit Sang #Nabi ﷺ cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar.
3. Alis Sang #Nabi ﷺ melengkung panjang, tebal, & nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah.
4. Bola mata Sang #Nabi ﷺ indah & hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar.
5. Janggut Sang #Nabi ﷺ menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya.
6. Dari bawah janggut Sang #Nabi ﷺ menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya.
7. Leher Sang #Nabi ﷺ jenjang & indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.
8. Lengan Sang #Nabi ﷺ panjang, tapak tangan lebar & tebal, jemarinya ramping. Telapak kaki beliau cekung, halus hingga airpun tak menempel.
9. Sang #Nabi ﷺ berjalan dengan langkah kaki lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut berguncang anggun tiap langkah.
10. Bila menoleh, #Sang Nabi ﷺ berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menunduk dibanding mendangak, melihat dengan sepenuh perhatian.
11. Dulu #Nabi ﷺ suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau selisihi dengan menyisir belahnya.
12. Sang #Nabi ﷺ suka meminyaki rambutnya. Kata Anas, uban beliau nan kurang dari 20 helai jadi tersamar. Beliau gemar merapikan janggutnya.
13. Sang #Nabi ﷺ menyukai celak itsmid yang beliau gunakan menjelang tidurnya. Tiga kali untuk kanan & kiri; sejuk & menumbuhkan bulu mata.
14. Di antara pakaian kesukaan Sang #Nabi ﷺ adalah gamis yang putih, hibarah merah buatan Yaman, & baju sampir 2 helai warna hijau & hitam.
15. Sang #Nabi ﷺ berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri harumkan bagian ‘aurat.
16. Jari manis Sang #Nabi ﷺ dilingkari cincin perak bermata batu hitam Habasyah, ditulisi “Muhammad Rasul Allah”; dilepas jika ke Peturasan.
17. Sang #Nabi ﷺ menyimpan selalu selimut Khadijah; kenangan menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama, & di dalamnya beliau diseru.
18. Sang #Nabi ﷺ gesit berolahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang anak-anak kecil; beliau lombakan siapa dulu yang mampu tangkap beliau.
19. #Nabi ﷺ suka minum susu dari wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, & buah lain; segigit berdua.
20. Tidur Sang #Nabi ﷺ tidak tengkurap. Jika miring berbantal tapak tangan, kaki disilang. Jika telentang, kaki kanan diletak di atas kiri.
21. Kadang dalam renung khusyu’, Sang #Nabi ﷺ duduk dengan 1 lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi bukan di saat makan.
22. #Nabi ﷺ suka mandi bersama & bercanda bermain air dengan istri-istrinya, bahkan pada Saudah nan tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu.
23. Penutup kepala kesayangan #Nabi ﷺ ialah surban hitam, dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. Sandalnya bertali dua dari kulit hewan.
24. Makanan kesukaan #Nabi ﷺ -yang jarang beliau nikmati- adalah paha kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam, kismis, & susu masam.
25. #Nabi ﷺ yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas rumah-tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, tombak.
26. #Nabi ﷺ makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah; kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka, & labu.
27. #Nabi ﷺ tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar.
28. #Nabi ﷺ mengerjakan sendiri segala urusan rumahtangga yang beliau bisa; menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, hingga memerah susu.
29. #Nabi ﷺ amat suka bersiwak bersih gigi; saat hendak shalat, hendak tilawah, hendak menemui tamu/sahabat, juga tiap kali menjumpai istri.
30. #Nabi ﷺ tak pernah jijik pada istri yang sedang haidh (seperti kebiasaan Arab & Yahudi); beliau tetap bermesra, hanya menghindari jima’.
31. Saat ‘Aisyah haidh, #Nabi ﷺ bersandar di pangkuannya sambil tilawah; atau meletakkan kepala di antara kaki ‘Aisyah, tidur dalam hangat.
32. Bahkan tuk shalat malam, #Nabi ﷺ minta izin pada istri nan lagi bersama di ranjang; “Apa kau ridha jika malam ini aku menghadap Rabbku?
33. Karena sempitnya kamar #Nabi ﷺ, tahajjud beliau menghadap ‘Aisyah berbaring. Jika hendak sujud, diisyarati kaki sang istri agar ditekuk.
34. Sang #Nabi ﷺ amatlah pemalu, lebih tersipu dibanding gadis dalam pingitannya. Tak pernah terbahak, hanya senyum tulusnya semanis madu.
35. Sang #Nabi ﷺ tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api.
36. Jika dihadapkan pada pilihan, Sang #Nabi ﷺ selalu mengambil hal yang ringan & mudah; selama ia tak jatuh pada apa yang dilarang Allah.
37. “Tak pernah kulihat”, kata Anas, “#Nabi ﷺ marah atau membalas laku buruk atas diri beliau. Beliau marah jika Allah & agamaNya dinista.”
38. “Pernah 3 x hilal berlalu”, ujar ‘Aisyah, “Tiada nyala api di rumah kami.” Apa penyambung hidup #Nabi ﷺ?, tanya ‘Urwah. “Kurma & air .”
39. Kelembutan Sang #Nabi ﷺ tak terhalangi & tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil ‘Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalatnya.
40. Al Husain naik ke punggung #Nabi ﷺ saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al Husain puas bermain. Nanti, beliau minta maaf pada hadirin.
41. Saat para cucu jadikan #Nabi ﷺ kuda-kudaan, merangkak kian-kemari, kata Abu Hurairah, “Tunggangan kalian paling mulia di langit & bumi”.
42. #Nabi ﷺ lalu tersenyum bersabda, "Pun penunggangnya, adalah yang terbaik." Ya Allah, curahi kami rahmatMu tuk kelak bersamanya di surga.
*dari twit @salimafillah

Wednesday, October 15, 2014

Jalan menuju surga

Setiap selesai sholat jum'at tiap pekannya, seorang imam (masjid) dan anaknya (yg berumur 11 tahun) mempunyai jadwal membagikan buku–buku islam, diantaranya buku at-thoriq ilal jannah (jalan menuju surga). Mereka membagikannya di daerah mereka di pinggiran Kota Amsterdam.
***
Namun tibalah suatu hari, ketika kota tersebut diguyuri hujan yang sangat lebat dengan suhu yang sangat dingin.
Sang anakpun mempersiapkan dirinya dengan memakai beberapa lapis pakaian demi mengurangi rasa dingin. Setelah selesai mempersiapkan diri, ia berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, aku telah siap" ayahnya menjawab : "Siap untuk apa?" , ia berkata: "Untuk membagikan buku (seperti biasanya)", sang ayahpun berucap: "Suhu sangat dingin diluar sana, belum lagi hujan lebat yang mengguyur", sang anak menimpali dengan jawaban yang menakjubkan : "akan tetapi, sungguh banyak orang yang berjalan menuju neraka diluar sana dibawah guyuran hujan".
Sang ayah terhenyak dengan jawaban anaknya seraya berkata: "Namun ayah tidak akan keluar dengan cuaca seperti ini", akhirnya anak tersebut meminta izin untuk keluar sendiri. Sang ayah berpikir sejenak dan akhirnya memberikan izin. Iapun mengambil beberapa buku dari ayahnya untuk dibagikan, dan berkata: "terimakasih wahai ayahku".
***
Dibawah guyuran hujan yang cukup deras, ditemani rasa dingin yang menggigit, anak itu membawa buku-buku itu yang telah dibungkusnya oleh skantong plastik ukuran sedang agar tdk basah terkena air hujan, lalu ia membagikan buku kepada setiap orang yang ditemui. Tidak hanya itu, beberapa rumahpun ia hampiri demi tersebarnya buku tersebut.
***
Dua jam berlalu, tersisalah 1 buku ditangannya. Namun sudah tidak ada orang yang lewat di lorong tersebut. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri sebuah rumah disebrang jalan untuk menyerahkan buku terakhir tersebut.
Sesampainya di depan rumah, ia pun memencet bel, tapi tidak ada respon. Ia ulangi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Ketika hendak beranjak seperti ada yang menahan langkahnya, dan ia coba sekali lagi ditambah ketukan tangan kecilnya. Sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia begitu penasaran dengan rumah tersebut.
Pintupun terbuka perlahan, disertai munculnya sesosok nenek yang tampak sangat sedih. Nenek berkata: "ada yang bisa saya bantu nak?" Si anak berkata (dg mata yg berkilau dan senyuman yang menerangi dunia): "Saya minta maaf jika mengganggu, akan tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Allah sangat mencintai dan memperhatikan nyonya. Kemudian saya ingin menghadiahkan buku ini kepada nyonya, di dalam nya dijelaskan tentang Allah Ta'ala, kewajiban seorang hamba, dan beberapa cara agar dapat memperoleh keridhoannya."
***
Satu pekan berlalu, seperti biasa sang imam memberikan ceramah di masjid. Seusai ceramah ia mempersilahkan jama'ah untuk berkonsultasi. Terdengar sayup-sayup dr shaf perempuan seorang perempuan tua berkata:"Tidak ada seorangpun yang mengenal saya disini, dan belum ada yang mengunjungiku sebelumnya. Satu pekan yang lalu saya bukanlah seorang muslim, bahkan tidak pernah terbetik dalam pikiranku hal tersebut sedikitpun. Suamiku telah wafat dan dia meninggalkanku sebatang kara di bumi ini".
Dan iapun memulai ceritanya bertemu anak itu.
"Ketika itu cuaca sangat dingin disertai hujan lebat, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Kesedihanku sangat mendalam, dan tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup. Akupun naik ke atas kursi dan mengalungkan leherku dengan seutas tali yang sdh kutambatkan sebelumnya. Ketika hendak melompat, terdengar olehku suara bel. Aku terdiam sejenak dan berpikir :"paling sebentar lagi juga pergi".
Namun suara bel dan ketukan pintu semakin kuat. Aku berkata dalam hati: "siapa gerangan yang sudi mengunjungiku,… tidak akan ada yang mengetuk pintu rumahku".
Kulepaskan tali yang sdh siap membantuku mengakhiri nyawaku, dan bergegas ke pintu. ketika pintu kubuka, aku melihat sesosok anak kecil dengan pandangan dan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak mampu menggambarkan sosoknya kepada kalian.
Perkataan lembutnya telah mengetuk hatiku yang mati hingga bangkit kembali. Ia berkata: "Nyonya, saya datang untuk menyampaikan bahwa Allah Ta'ala sangat menyayangi dan memperhatikan nyonya", lalu dia memberikan buku ini (buku jalan menuju surga) kepadaku.
Malaikat kecil itu datang kepadaku secara tiba-tiba, dan menghilang dibalik guyuran hujan hari itu juga secara tiba2. Setelah menutup pintu aku langsung membaca buku dari malaikat kecilku itu sampai selesai. Seketika kusingkirkan tali dan kursi yang telah menungguku, karena aku tidak akan membutuhkannya lagi.
Sekarang lihatlah aku, diriku sangat bahagia karena aku telah mengenal Tuhanku yang sesungguhnya. Akupun sengaja mendatangi kalian berdasarkan alamat yang tertera di buku tersebut untuk berterimakasih kepada kalian yang telah mengirimkan malaikat kecilku pada waktu yang tepat. Hingga aku terbebas dari kekalnya api neraka."
***
Air mata semua orang mengalir tanpa terbendung, masjid bergemuruh dengan isak tangis dan pekikan takbir… Allahu Akbar…!!!
***
Sang imam (ayah dari anak itu) beranjak menuju tempat dimana malaikat kecil itu duduk dan memeluknya erat, dan tangisnyapun pecah tak terbendung dihadapan para jamaah.
Sungguh mengharukan, mungkin tidak ada seorang ayahpun yang tidak bangga terhadap anaknya seperti yang dirasakan imam tersebut.
***
Judul asli : قصة رائعة جدا ومعبرة ومؤثرة
Penerjemah : Shiddiq Al-Bonjowiy

Tuesday, October 14, 2014

9 Reasons People Love to Work With You


Some people are a pain to be around. Most are okay. But occasionally we find someone we love to work with.

Here are nine reasons:

1. They make us feel even smarter than we are.

You know the type. An employee, a colleague, a vendor…someone has an idea. It's a good idea. It's a great idea. Now it's his idea.

Do it once and people narrow their eyes. Do it twice and resentment simmers. Do it three times and that's the last time anyone ever shares any ideas with you.

The people we love to work with with have a knack for doing the opposite: they make their ideas feel like our ideas. When that happens we all work harder. We all work with a greater sense of purpose. We all feel a greater like we're part of something bigger.

And we're all more likely to succeed.

2. They never find something to take personally.

A French dilettante once said, "I am such an egotist that if I were to write about a chair, I'd find some way to write about myself."

The people we hate to work with see themselves as the center of their own universe, at the center of every story they tell--and the victim of every unfortunate or negative event.

An employee misses work because he's badly injured? Forget him -- look what a mess that makes of my staffing levels! A supplier has a baby and needs to reschedule an appointment? Forget her -- doesn't she know what that does to my schedule?

To those people,whatever happens to someone else -- regardless of how unfortunate or even tragic--becomes trivial; what matters most is the effect that has on me.

The only things people we love to work with take personally are the things they can do to make life better for other people -- because they feel a personal obligation to improve the lives of the people around them.

3. They always find a silver lining.

You land a major customer... but all you can think about is how hard it will be to fulfill those new orders. You hire a superstar programmer... but all you can think about is how much you have to pay her. You team up with an awesome partner... but all you can think about is the control you'll lose.

Victories, in business and life, are often few and far between. Achieving something awesome (or even just a tiny bit cool) takes time and effort, so reasons to celebrate can be rare.

The people we love to work with realize that every huge goal is accomplished one small step at a time and rightly feel every step is cause for celebration. They have a knack for finding the silver lining in every dark cloud because they know there is always a silver lining -- you just have to be willing to look.

And by looking, they spread a sense of optimism and enthusiasm -- something that is often in short supply.

4. They never fail to share (or even give away) the credit.

People we hate to work with tend to be extremely political: they jockey, they maneuver, they plot, and they always try to make themselves look better in the eyes of others -- especially at the expense of other people. (After all, if I look good and you look bad, I'm that much farther ahead, right?)

The people we love to work with know the best glory is reflected glory. They step back from the spotlight. They let others take the credit for hard work. They let others receive the praise for a job well done..

Most of all, they gain a private sense of fulfillment from seeing others receive public recognition -- because that means everyone wins.

5. They always think before they speak and act.

Ever seen someone throw a chair because he thought his instructions had not been followed? I have. Ever seen someone shred an employee for a mistake it turns out that person didn't make? I have.

Ever seen someone speak or act without thinking -- and forever revised your opinion of her? I have.

People we love to work with react instantly to good news. They react instantly to offer recognition, congratulations, and praise.

But they take a long time to think, reflect, and decide the best way to speak and act when problems arise or when mistakes are made. They know their words and actions will leave a lasting impact, so they do everything possible to get it right.

Even when everything around them seems to be going wrong.

6. They listen ten times more than they talk.

Interrupting isn't just rude. When you interrupt someone what you're really saying is, "I'm not listening to you so I can understand what you are saying; I'm only listening to find a place to jump in and say what I want say."

The people we love to work with listen more than they talk. They focus on what others say. They ask questions not to seem smart but to better understand.


And we love them for it.

7. They never actively seek validation.

Everyone likes praise.

But some people need praise. Some people need constant attention. They need constant validation that they are smart, capable, in charge, successful. In fact, they need to know they are smarter, more capable, and more successful than everyone else.

People we love to work with don't care about external validation. They care about feeling good about themselves. The only validation they seek is what they find in the mirror.

Seeking self-worth inside themselves allows them to spend all their energy encouraging, recognizing, and validating other people -- which makes them awesome to work with.

And also makes them awesome friends.

8. They never talk out of school.

It's hard for any of us to resist learning inside scoop. Finding out the reasons behind someone's decisions, the motivations behind someone's actions, the skinny behind someone's hidden agenda -- much less whether Marcy from shipping is really dating Juan in accounting -- those conversations are hard to resist.

Unfortunately, the people who gossip about other people are also gossiping about us... and suddenly the idea of gossip isn't so much fun.

People we love to work with excuse themselves from gossip and walk away. They don't worry that they'll lose a gossiper's respect -- they know that anyone wiling to gossip doesn't respect other people anyway.

Instead, if they decide to share a secret, they speak openly about their own thoughts and feelings. That way they're not gossiping.

They're just being genuine -- and we all love being around people who are genuine.

9. They never jump on their soapbox.

The higher you rise and the more you accomplish the more likely you are to think you know everything... and the more likely you are to think you need to tell other people everything you think you know.

Some people speak with much more finality than foundation. Some people think a position or "status" automatically confers wisdom. And that means other people hear…but don't listen.

People we love to work with share their thoughts in a humble and unpretentious way. They care about what we know.

After all -- they already know what they know.
_______________________________________
Source:
https://www.linkedin.com/today/post/article/20141007125123-20017018-amazing-qualities-of-people-we-all-love-to-work-with

Wednesday, July 9, 2014

Tawakkal Semut di Batu


Kisah Semut Yang Tawakkal
KISAH TELADAN DARI SEEKOR SEMUT YANG BERIMAN
Tawakkal Semut di Batu
Di zaman Nabi Sulaiman terjadilah suatu peristiwa, waktu itu Nabi Sulaiman melihat seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Sulaiman merasa takjub dan heran bagaimana semut tersebut bisa bertahan hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang gersang dan tandus. Nabi Sulaiman pun bertanya kepada semut itu: “ Wahai semut bagaimana cara kamu dapat makanan? Apakah kamu yakin bisa memperoleh makanan yang cukup untuk kamu bisa bertahan hidup”.
Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus seperti ini pun pasti tersedia rezeki untuk ku”. Lantas Nabi Sulaiman pun bertanya: ” Wahai semut, seberapa banyakkah engkau makan? Jenis makanan apakah yang engkau sukai? Dan berapa banyak makanan yang engkau makan dalam satu bulan?”
Jawab semut: “Aku makan hanya sekadar sebiji gandum setiap satu bulan”.
Nabi Sulaiman pun kemudia berkata: “Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tidak lah sulit bagimu melata di atas batu, aku bahkan bisa membantumu”. Nabi Sulaiman pun mengambil sebuah kotak, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalamnya; kemudian Nabi mengambil gandum sebiji, dibubuhkan kedalam kotak dan kemudian di tutup lah kotak tersebut.
Kemudian Nabi meninggalkan semut di dalam kotak yang tertutup dengan sebiji gandum didalamnya untuk jatah makanan semut selama satu bulan. Akhirnya satu bulan kemudian Nabi Sulaiman kembali untuk bertemu dan melihat keadaan sang semut. Terlihatlah gandum yang sebiji hanya dimakan setengah saja oleh si semut, lantas Nabi Sulaiman berkata dengan suara yang meninggi: “Kamu rupanya berbohong padaku! Bulan lalu kamu katakan kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan lewat tapi kamu hanya makan setengahnya”.
Jawab semut: “Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum untuk satu bulan, itu karena makanan yang aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya dari Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam kotak yang tertutup, rezekiku bergantung padamu dan aku tak percaya kepada mu, itulah sebabnya aku makan setengah saja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa…”.
Akhirnya Nabi Sulaiman tersenyum dan mengerti dengan penjelasan semut tersebut…
The Moral Behind of the Story:
Demikianlah seekor semut sahabat Nabi Sulaiman telah mengajarkan kita makna hakiki sebuah kemerdekaan, sebuah kemandirian. Kebebasan yang sejati adalah manakala kita hanya menggantungkan keyakinan diri kita hanya kepada Tuhan sang Khalik, Sang Pencipta. Dan tidak menggantungkan diri kita kepada selain Nya, yang bernama makhluk, yang diciptakan.
Inilah harga diri yang mesti kita tanamkan, inilah martabat dan kemulyaan orang yang beriman. Dengan keyakinan tersebut sejarah mencatat peradaban umat manusia telah ditulis dengan tinta emas betapa kemulyaan perjuangan para Nabi yang diwariskan kepada umat manusia. Inilah prinsip perjuangan seluruh Nabi untuk menundukkan diri hanya kepada Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi Nya.
Dalam Agama telah sangat jelas disebutkan bahwa manusia yang merdeka, manusia yang mempunyai jiwa yang lapang adalah manusia yang sholatnya, ibadahnya, hidupnya, serta matinya hanya untuk Allah semata. Sesungguhnya inilah makna yang sebenarnya dari konsepsi keesaan Tuhan.
Manakala setiap tutur kata dan tingkah laku kita senantiasa terjaga dari hal yang sia-sia, terjaga dari keburukan, karena dalam diri telah tertancap keyakinan bahwa segala perkataan dan perbuatan kita senantiasa diawasi oleh Allah tanpa satu detikpun terlewatkan. Bahkan niat kita yang masih didalam hatipun Allah mengetahui. Sehingga dari keyakinan tersebut, timbul kesadaran untuk mendedikasikan hidup dan kehidupan kita karena Allah semata.
Sebagai seorang beriman tidak perlu ada keresahan, kegalauan, atau ketakutan dalam diri. Sesungguhnya Allah Maha Benar, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, kelaparan atau apapun permasalahan yang dihadapi manusia bukanlah bentuk kebencian atau ketidak pedulian Allah. Karena Tuhan tak pernah menganiaya hambanya, Dia tidak mungkin berbuat zalim.
Inilah prinsip dan keyakinan Ilahiah yang mesti ada dalam diri-diri setiap insan, laksana akar dari pohon yang membuat kokoh dan akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati sekaligus tempat berteduh banyak orang. Laksana Pondasi sebuah bangunan yang menopang sebuah gedung, menopang manusia yang tinggal diatasnya, memberikan perlindungan dan keamanan terhadap panas, hujan, angin bahkan gempa.
Sekiranya diantara kita ada yang masih menganggur belum bekerja jangan pernah berputus asa, karena rezeki bukan hanya dengan cara bekerja pada suatu perusahaan. Sekiranya anda belum dapat melanjutkan sekolah, jangan pernah pesimis dengan masa depan karena kebahagiaan dapat ditempuh dengan berbagai cara. Sekiranya diantara kita ada yang sakit, pantang menyerah untuk berobat dan bersabar karena Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan amal dan upaya kita.
Ketika segenap permasalahan menimpa seseorang, itulah cara Allah menguji keimanan hamba-Nya. Saat permasalahan yang datang bertubi-tubi dihadapi serta diselesaikan dengan bijak, sabar, dan bertawakal kepada Allah, maka hamba tersebut adalah orang beruntung yang menyelesaikan ujian dari Allah dengan predikat “lulus”. Allah berjanji bahwa saat hambanya menghadapi permasalahan dengan keimanan sehingga ia lulus dari ujian tersebut, maka Allah naikkan derajatnya sebagai seorang yang bertakwa.
Saat manusia menyandarkan segala sesuatunya kepada makhluk atau benda yang akan didapat hanyalah ketidak sempurnaan serta kekecewaan. Bisa jadi di awal dia akan mendapat keuntungan tetapi itu hanya kesenangan sesaat. Namun bila kita menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah, maka ketentraman dan kebahagiaan sejati yang akan kita dapat. Karena Allah Maha Sempurna lagi Maha Penguasa setiap makhluk. Menyandarkan hidup hanya kepada Allah adalah solusi dalam menghadapi segala cobaan dan permasalahan kehidupan.
Oleh karena itu mari pahami terlebih dahulu makna syahadat kita: Kosongkan dulu semuanya, hilangkan kepercayaan anda terhadap apapun, siapapun. Kosongkan terhadap segala kepercayaan yang palsu dan semu. La Ilaha ILALLAH!!!!!! Tiada Tuhan Yang Disembah Selain Allah Ta’ala!!!! Langkah pertama, meniadakan seluruh sesembabahan kepada apa saja selain Allah, Setelah itu tanamkan dan benamkan seluruh keadaran dan hati anda bahwa sesungguhnya yang satu-satunya perlu diyakini keberadaan dan eksistensinya nya hanya Allah semata. Tiada ibadah yang harus dipersembahkan melainkan untuk Allah semata. Tiada yang perlu dituju kecuali menuju Allah semata.
Dengan demikian, manusia yang beriman tidak akan pernah dan tidak akan mau menerima uang SOGOKAN. Dia akan meyakini bahwa rezeki didapat bukan dengan cara-cara seperti itu. Dia akan mencontoh keyakinan seekor semut seperti cerita diatas. Dan jangan sampai iman manusia dikalahkan oleh iman seekor semut!
Dan Janganlah kalian terlalu cepat mengambil keputusan dan persangkaan sebelum kamu mempelajarinya terlebih dahulu dan mendengar penjelasan dari pihak pihak yang terkait.
Semoga Bermanfaat.
Allahu Ta’ala A’lam

Saturday, May 17, 2014

Chicken Soup: Tidur atau Terjaga?

Malam itu Habah bin 'Arani dan Nauf Al-Bakali tidur di halaman kediaman Khalifah di Kufah. Setelah tengah malam, mereka melihat imam Ali, Amirul Mukminin, keluar dengan perlahan dari kediamannya, memasuki halaman dalam keadaan yang tak biasa. Ia limbung tak mampu menjaga keseimbangannya, terbungkuk bersandar pada dinding, lalu selangkah demi selangkah maju, seraya menggumamkan ayat ayat terakhir (190-194) dari surah Al Imran, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (190); yaitu orang orang yang mengingat Allaah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka. (191); Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang orang yang zalim seorang penolong pun. (192); Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu'; maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang orang yang berbakti. (193); Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.' (194)"
Tak berapa lama setelah selesai melantunkan ayat ayat tersebut, Ali kw mengulangnya lagi. Ia melantunkan ayat ayat ini berulangkali. Tampaknya beliau berada dalam keadaan yang tidak biasa.
Habah dan Nauf keduanya berbaring di tikar mereka, merenungkan kejadian aneh ini. Habah terpaku keheranan, terus menatap sang Imam. Sementara Nauf tidak mampu menahan air matanya yang trus mengucur. Ali sampai ke tempat Habah berbaring dan bertanya kepadanya, "Apakah engkau tidur atau terjaga?"
Habah menjawab, "Ya, aku terjaga, wahai Amirul Mukminin! Buka kau takut kepada Allaah begitu rupa, maka bagaimana dengan kami, orang orang celaka ini?"
Amirul Mukminin, Ali, sambil menutup mata, mulai berlinangan air matanya. Kemudian beliau berkata, "wahai Habah! Suatu hari kelak kita akan dihadapkan kepada Allaah dengan tak satu pun perbuatan kita yang tersembunyi dari-Nya. Dia lebih dekat kepadaku dan kepadamu dari urat leher kita. Tidak ada penghalang apa pun di antara kita dengan Allaah." Kemudian sambil menoleh pada Nauf, beliau bertanya, "Apakah kau tidur?"
Nauf menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mukminin! Aku terjaga dan sedari tadi meneteskan air mata."
Ali kw, "Wahai Nauf! Jika kau mengucurkan air matamu hari ini karena takut kepada Allaah, kelak di Hari Pengadilan, matamu akan tersegarkan. Wahai Nauf, setiap tetesan air mata karena takut kepada Allaah akan memadamkan api neraka. Wahai Nauf, tak seorang pun yang memiliki kedudukan dan peringkat lebih tinggi daripada orang yang mengucurkan air matanya karena takut terhadap Allaah dan karena cinta kepada Nya.
Wahai Nauf, seseorang yang mencintai Allaah dan mencintai karena Allaah, dan tak memilih apa pun selain cinta Allaah, dan orang yang membenci karena Allaah, maka ia tidak akan menerima apa pun atas kebencian semacam ini kecuali kebaikan. Ketika kau telah mencapai tingkatan seperti itu, maha kau akan menyaksikan keyakinan yang nyata dengan sempurna."
Beliau kemudian menasihati Habah dan Nauf untuk beberapa waktu; kemudian mengakhirinya, "Takutlah kepada Allaah, aku ingatkan ini kepada kalian."
Beliau lalu meninggalkan mereka sambil melanjutkan doa nya, "Ya Allaah, aku berharap mengetahui saat aku melupakan Mu, apakah Engkau menelantarkanku atau kah Engkau tetap memberi perhatian kepadaku? Aku berharap mengetahui bagaimana kondisiku kelak di hadapan Mu, sedang aku telah tertidur panjang dan lalai memuja Mu?"

Tuesday, August 27, 2013

You'll Never Walk Alone

#YNWA

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don't be afraid of the dark

At the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown

Walk on walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don't be afraid of the dark

At the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song of the lark

Walk on through the wind
Walk on through the rain
Though your dreams be tossed and blown

Walk on walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone.

You'll never walk alone.
You'll never walk alone.

Saturday, June 1, 2013

Blogger for Android

It has been long time since my last post.

I have visited blogger.com for sometime, but only tonight I noticed that the blogger mobile has turned into an application.

Without further thinking, I went to google play & downloaded it ~ Bloogger for Android

So.. This is it! The first post from mobile blogger application.

I like it!

Simple, without losing posting experience as in its web version ..
I even put a picture below showing how it looks like.
And it hare..

Although I am not an active blogger, still this is useful and helpful in our so-called mobile internet era.

Obviously it would be a benefit for an active mobile blogger.

So why waiting..
Download! Enjoy! And Blog!
*sounds like an ad :)*

Salaam...

Wednesday, December 28, 2011

Kisah "Natal"

Kisah "Natal"

Berikut adalah tweets dari @salimafillah mengenai Natal yang dikutip dari twitter beberapa waktu lalu.

------------------------------------

1. #Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an; "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak
2. Wasi'an: "Kalian mengimani Musa, juga 'Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda. #Natal
3. Wasi'an: "Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan AlQuran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan." #Natal
4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82). #Natal
5. Tapi mungkin memang sudah tabiat 'aqidah, satu sama lain tak rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120). #Natal
6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: 8). #Natal
7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64). #Natal
8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6). #Natal
9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai 'Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad. #Natal
10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman. #Natal
11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?#Natal
12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & 'Isa yang tiada duanya. #Natal
13. Termuliakanlah 'Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59). #Natal
14. Termulialah 'Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)
15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai 'Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam
16. #Natal ini, kalian rayakan kelahiran 'Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.
17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember. #Natal
18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari. #Natal
19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul 'Azmi nan teguh hati; 'Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini. #Natal
20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan 'Son of God' sebagai 'Sun of God'. #Natal
21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam #Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya 'Isa, kawan terkasih.
22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya. #Natal
23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di 'Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para 'ulama. #Natal
24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86) #Natal
25. Yang disepakati para 'ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI. #Natal
26. Jika keterlibatan dalam kegiatan #Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para 'ulama
ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
27. Yang membolehi selamat #Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas 'aqidah.
28. Tahniah #Natal, kata keduanya; bisa menjadi da'wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang 'Ibrahim Mencari Tuhan', tapi 'Ibrahim Berda'wah', demikian ditegaskan Al Qurthuby. #Natal
30. Maka tahni-ah #Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah #Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
32. Adapun Al 'Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA, dll cenderung mengharamkan tahni-ah #Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai 'aqidah keliru.
33. Jadi ikhtilaf 'Ulama terkait tahni-ah #Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.
34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama. #Natal
35. Lajnah Fatwa KSA&Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. AlQardhawy & Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk. #Natal
36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan #Natal? Kata Asy-Syafi'i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.
37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati. #Natal
38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas. #Natal
39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll #Natal
40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al 'Utsaimin pada posisi memelihara 'izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain. #Natal
41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya. #Natal
42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan 'ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini: http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html
43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari'at. #Natal
44.Sebab itu; para 'Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA' (keliru), bukannya HAQ & BATHIL. #Natal
45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia. #Natal
46. Demikian bincang #Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama

Agar Nafkah Menjadi Berkah

sumber: http://ceritateladan.com/2011/12/agar-nafkah-keluarga-menjadi-berkah/

Agar Nafkah Menjadi Berkah

Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama.

Allah berfirman,

”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).

Dan ketika sahabat yang mulia, Salman Al-Farisy radhiallahu ‘anhu ditanya oleh seorang musyrik, Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab, ”Benar, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar dan ketika buang air kecil…[1]

Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, dengan tujuan untuk membimbing orang-orang yang beriman agar mereka meraih keberkahan dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pembelanjaan harta mereka yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”[2]

Disamping itu, mengatur pembelanjaan harta sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala merupakan cara terbaik untuk mengatasi keburukan nafsu manusia yang tidak pernah puas dengan harta dan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[3]

Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[4]

Kewajiban mengatur pembelanjaan harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”[5]

Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hAl-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia.[6]

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idha’atul maal (menyia-nyiakan harta).[7]

Arti “idha’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan.[8]

Antara pemborosan dan penghematan yang berlebihan

Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqaan: 67)

Artinya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan).[9]

Juga dalam firman-Nya,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 29)

Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah.”[10]

Waspadai fitnah (kerusakan) harta!

Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[11]

Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. At-Tagaabun: 15).[12]

Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[13], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[14]

Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.[15]

Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf  berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”[16]

Zuhud dalam masalah harta

Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hAl-hal yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”[17]

Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”[18]

Jangan lupa menyisihkan sebagian harta untuk sedekah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Sabaa’: 39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.[19]

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya.”[20]

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hAl-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.”[21]

Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma.”[22]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”[23]

Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”[24]

Nasehat dan penutup

Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.

Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”[25]

Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[26]

Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[27].

Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang AllahSubhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.”[28]

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

sumber:www.PengusahaMuslim.com


[1] HSR Muslim (no. 262).

[2] HSR Al-Bukhari (no. 56) dan Muslim (1628).

[3] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).

[4] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.

[5] HR At-Tirmidzi (no. 2417), Ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam “As-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.

[6] Lihat kitab “Bahjatun naazhirin syarhu riyaadhish shaalihin” (1/479).

[7] HSR Al-Bukhari (no.1407) dan Muslim (no.593).

[8] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar” (3/237).

[9] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433).

[10] Kitab “Fathul Qadiir” (3/318).

[11] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.

[12] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).

[13] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 84 - Mawaaridul amaan).

[14] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).

[15] Kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83-84, Mawaaridul amaan).

[16] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83 – Mawaaridul amaan).

[17] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/384).

[18] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/179).

[19] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/713).

[20] HSR. Muslim (no. 2588).

[21] Lihat kitab “Syarhu shahihi Muslim” (16/141) dan “Faidhul Qadiir” (5/503).

[22] HSR Al-Bukhari (no. 1351) dan Muslim (no. 1016).

[23] HSR Muslim (no. 2626).

1 HSR Al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).

2 HSR Al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).

[26] HSR Muslim (no. 34).

[27] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 81).

[28] HSR Muslim (no. 1054).



Apakah Perempuan Itu Manusia?


Apakah Perempuan Itu Manusia?

Apakah perempuan itu manusia? Inilah sebuah pertanyaan yang membingungkan orang Eropa dalam waktu yang lama. Mereka berkumpul pada tahun 586 SM di Perancis untuk meneliti isu ini dan menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian mereka menyimpulkan—setelah pertemuan, konsultasi, dan diskusi—bahwa perempuan diciptakan untuk mengabdi kepada laki-laki, dan hal itu tidak terjadi kecuali 30 tahun hingga Nabi saw. bangkit, dan mengatakan kepada dunia bahwa perempuan adalah pasangan hidup laki-laki dan kehidupan dunia adalah perhiasan dan perhiasan yang terbaik adalah wanita yang salihah (baik). Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang menghormati dan memuliakan perempuan serta fungsi pentingnya di masyarakat.

Sebelum masa Nabi Muhammad, di India, wanita tidak punya hak untuk hidup setelah kematian suaminya, tapi harus ikut dengan kematian suaminya. Setelah masa Nabi Muhammad, wanita adalah pendamping lelaki.
Sebenarnya, saudara dan saudari sekalian, siapapun yang membaca jalan hidup (sirah) Nabi akan mendapati bahwa peran perempuan dalam masyarakat pada saat itu lebih besar dari pada peran perempuan pada masa sekarang. Perempuan pada masa Nabi, berperan sebagai istri, ibu, pergi berperang, sebagai dokter, memberikan pendapat umum soal agama (fatwa), juga memberikan nasihat kepada hakim (dan penguasa). Oleh karena itu, banyak dari para istri Nabi yang biasa memberikan saran dalam bidang politik dan sosial.
Sebelum masa Nabi Muhammad, di Yahudi, ketika wantia mengalami menstruasi (haid), lelaki tidak makan atau minum bersama mereka. Lelaki menjauhi wanita. Setelah masa Nabi Muhammad, Aisyah meriwayatkan, “Saya terbiasa minum dari gelas yang dipakai Nabi untuk minum… dan dia juga minum setelah saya ketika masa periode (haid).”
Saya jadi berpikir, apakah peran perempuan masa sekarang kembali ke masa sebelum Nabi Muhammad saw?
Sebelum masa Nabi Muhammad, bangsa Arab, membunuh perempuan adalah perbuatan mulia. Setelah masa Nabi Muhammad, kehidupan dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salihah (baik).
Hari ini, saudara dan saudari sekalian, masih ada para ayah yang memaksa putri mereka untuk menikah dengan pria yang tidak ia inginkan. Pernah datang kepada Nabi, seorang wanita yang mengeluh karena ayahnya memaksanya untuk menikahi pria yang tidak disukainya. Kemudian Nabi memanggil ayah itu dan menyerahkan situasi kepada pilihan wanita apakah setuju dengan tindakan ayahnya atau membatalkan perkawinan. Kemudian wanita itu (semoga Allah rida kepadanya) berkata, “Saya menerima apa yang ayah saya lakukan, tapi ini semua bertujuan untuk membebaskan wanita bahwa sebenarnya seorang ayah tidak berhak melakukan itu!”
Seorang suami memukul istrinya setiap 18 detik di Amerika Serikat.
Juga menjadi biasa dalam fenomena sosial, khususnya bangsa Arab, adalah beberapa pria malu untuk menyebutkan nama istri atau ibu mereka di depan teman-teman. Anda temukan mereka berkata, “Zaujatî, Allâh yakrimak (Istri saya, semoga Allah memuliakan Anda)” atau, “Al-mar’ah, Allah ya’izzak (Wanita itu, semoga Allah membesarkan Anda).” Kalimat ini sudah biasa. Seolah-olah nama perempuan itu aurat yang harus ditutupi. Padahal dulu Nabi ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau mengatakan, “Aisyah.” Beliau tidak mengatakan, “Istri kedua saya,” atau, “Ibunya anak-anak.”
Terungkap, 2 juta wanita telah dipukul di Perancis setiap tahunnya.
Saudariku, jika ada seseorang yang dianiaya, apakah oleh ayahnya atau suaminya, kirimkan pesan kepada kami melalui situs program ini. Kami berjanji akan menyampaikannya ke pemimpin eksekutif Amnesty Commision and the Reform of Albin, Dr. Nassir Az-Zahrani. Komite ini diketuai oleh Pangeran Abdulmajid bin Abdulaziz.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Dengan maksud apa Anda memukul istri seperti memukul budak, kemudian tidur bersamanya pada malam hari?”
Tidak ada keraguan bahwa Islam memberikan banyak hak bagi lelaki “terhadap perempuan”. Nabi bersabda, “Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk tunduk kepada orang lain, maka saya akan perintahkan istri untuk tunduk terhadap suaminya, karena besarnya hak suami terhadap istri.” Jadi tidak ada keraguan tentang ini dan tidak ada yang menolak, tapi Islam tidak memberikan hak bagi lelaki untuk bertindak zalim (tirani), menganiaya atau memukul istri dan putrinya. Karena bagi putri, perempuan dan istri ada kehormatan Islam yang harus kita hormati!
Di Inggris, 77 persen suami memukul istri karena tanpa sebab.
Rasulullah saw. bersabda, “Bermurah-hatilah terhadap qawarir (perempuan).” (Catatan: Nabi menggunakan kata qawarir yang dalam bahasa Arab merujuk pada mereka yang memiliki kehalusan hati, kebaikan, dan kelembutan). Salah seorang ulama mengatakan, “Benar bahwa perempuan adalah sebagian dari lingkungan sosial, tapi ingat bahwa ia adalah yang mengasuh sebagian yang lain. Maka wanita adalah keselurahan kehidupan sosial.”
Saya yakin, saudara saudariku, bahwa negara Islam tidak akan bangkit kecuali jika kita memberikan kepada perempuan kemuliaannya, ketinggiannya, dan penghormatannya di lingkungan sosial, baginya untuk menjadi seorang ibu yang memiliki martabat, yang melahirkan bagi kita seseorang seperti Umar bin Abdulaziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan pria-pria lain yang tiada tandingnya.


Sumber: Khawâthir Syâb merupakan acara yang pandu oleh Ahmad Asy-Syaqiri di televisi Arab Saudi yang khusus mengupas kehidupan sehari-hari dunia Arab dan ditayangkan pada bulan Ramadan.



Penerjemah: Ali Reza Al-Jufri © 2009

Subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner